-- CHIA IE SPREY ONLINE STORE --
Untuk Mempermudah Komunikasi Add PIN BBM 79d97589 Dan 75fe176e ONLINE STORE "KLIK DISINI" . Untuk Sementara Kami Hanya Melayani Pelanggan Di Pulau Bali dan Lombok Saja, FORMULIR BELANJA ..... "KLIK DISINI"__________________________________________________ )

Sabtu, 06 Juli 2013

WIDYA CIPTA SCHOOL Hayam Wuruk, Denpasar Timur BALI [ Sangat Disayangkan Tidak Bertanggungjawab ]

Women and Mommy, tidak terasa sebentar lagi anak-anak kita kembali masuk sekolah pertengahan bulan Juli ini, dan pastinya luar biasa repotnya untuk mengurus semua kebutuhan pendidikan si buah hati. Tahun ini, demi pendidikan putri tercinta saya, luar biasa repotnya dan merupakan pengalaman berharga yang saya jalani dan dapatkan bersama keluarga. Pengalaman ini saya share kepada sahabat Women And Mommy agar mudah-mudahan tidak terjadi pada orang lain.
Women And Mommy, Anak saya, saya titip percayakan pendidikan formalnya disebuah lembaga pendidikan bernama VISI MANDIRI SCHOOL (Awalnya, sebelum berubah nama menjadi Widya Cipta School, jadi yayasan pendidikan baru dan pisah grup dengan VISI MANDIRI SCHOOL) sejak dari TK (Kindergarten) sampai dengan kelas tiga (Primary School, Grade III). Kepercayaan ini awalnya bukan tanpa dasar, saya melihat sarana dan prasarana cukup bagus, visi dan misi yang disampaikan juga bagus.
WIDYA CIPTA SCHOOL BALI 2009-2013
(Video : http://www.youtube.com/watch?v=WqXMZhSEEVY)
Dalam perjalanan waktu Yayasan Pendidikan ini tidak mampu bersaing dengan yayasan pendidikan lain dalam meraih siswa baru sehingga hanya mengharapkan aliran siswa primary school-nya (SD) dari kindergarten (TK) yang jumlahnya hanya belasan dan akhirnya tahun demi tahun dalam proses perkembangannya yayasan pendidikan ini juga tidak mampu bersaing dan meningkatkan publikasi serta animo masyarakat untuk bersekolah di yayasan pendidikan ini, dan akhirnya jumlah siswa SD-nya sejak mulai kelas-1 sampai ke kelas-3 terus berkurang, sampai akhirnya di kelas-3 hanya berjumlah 11 siswa saja (termasuk anak saya).
WIDYA CIPTA SCHOOL HARLEM SHAKE KINDERGARTEN 2013
(Video : http://www.youtube.com/watch?v=HfeaRH8XVlI)
Sampai pada kenaikan ke kelas-4 (Grade IV) yang saya pikir jumlah siswanya masih tetap (sebenarnya saya berharap yayasan pendidikan ini bisa maju dan meraih siswa baru), saya dengar kabar bahwa Kepala Sekolah dan Guru-guru SD-nya akan mengundurkan diri/resign, berita ini kami orangtua siswa dapatkan pada acara PERMANCE and GRADUATION 13 Juni 2013 (seperti terlihat pada video-video ini) , terus terang kami orangtua semua kaget dan pada saat itu pemilik yayasan pendidikan tidak hadir (berada di Jakarta) dan kami orangtua siswa pun sulit mengkonfirmasi kelanjutan pendidikan anak-anak kami jika tidak ada Guru-guru dan kepala sekolahnya.
WIDYA CIPTA SCHOOL HARLEM SHAKE PRIMARY SCHOOL 2013
Memasuki masa liburan, saya masih berfikir positif dan tidak ada prasangka buruk apapun, dalam benak saya, pemilik yayasan akan mencari guru-guru dan kepala sekolah baru dan jumlah siswapun tetap. Tiba-tiba  pada hari Rabu, 26 Juni 2013, saya mendapat kabar dari administrasi yayasan yang mengatakan bahwa siswa yang masih tetap tinggal 2 orang (termasuk anak saya) dan kepala sekolah serta guru SD baru-nya juga belum ada.. HAH !!!, ada apa dengan Widya Cipta School ? belakangan akhir kabar ternyata siswa yang satu-nya lagi juga pindah sekolah, artinya siswa kelas-4 di yayasan itu tinggal anak saya saja. Saya mengkonfirmasi hal tersebut ke administrasi yayasan dan jawabnya "yah bagaimana ya mami ?", pertanyaan saya mengenai bagaimana tanggungjawab yayasan terhadap pendidikan anak saya dijawab dengan pertanyaan lagi. Akhirnya saya mendapat kejelasan dari pemilik yayasan yang bernada "menyerah" dan tanggungjawab yayasan hanya memberikan secarik kertas surat keterangan pindah sekolah dengan isi berita  "permohonan pindah sekolah atas keinginan orangtua" padahal saya sama sekali tidak pernah mengajukan permohonan pindah sekolah anak saya, baik secara lisan dan tulisan, , karena pemilik pernah berkata kepada saya "Meskipun siswa hanya satu orang, yayasan/sekolah ini akan tetap bertanggungjawab dalam memberikan tanggungjawab pendidikannya" ternyata hanya omong kosong belaka. Saya dan keluarga tidak ingin mempersulit orang yang sudah "menyerah" dan lepas tanggungjawab, dan tanpa menunda dan terpaksa mencarikan sekolah baru untuk anak saya tercinta yang secara otomatis saya harus mengalokasikan dana baru untuk UANG GEDUNG + UANG PENGEMBANGAN + UANG SERAGAM + UANG BUKU yang jumlahnya tidak sedikit.
Berdasarkan pengalaman diatas Women And Mommy, saya coba cari-cari kiat dan cara untuk dapatkan sekolah yang baik dan bertanggungjawab untuk anak saya agar pengalaman buruk diatas tidak terulang kembali. Berikut ini adalah share informasi yang dapat saya berikan.
Kiat Memilih Sekolah Terbaik.
Web Ref : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/tips/kiat.memilih.sekolah.terbaik/001/005/642/1
Saat ini banyak sekali sekolah yang tersedia untuk anak-anak. Setiap sekolah memiliki kurikulum, pendekatan, cara pengajaran, serta nilai-nilai yang berbeda. Terdapat pandangan baru mengenai pendidikan yang tepat untuk anak. Pendekatan cara belajar aktif, yang tidak menekankan pada tes saja, dan merangsang rasa ingin tahu anak menjadi lebih penting karena anak-anak membutuhkan sekolah yang mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kita sebagai orangtua tidak bisa tahu tantangan apa yang akan anak hadapi nanti. Dibutuhkan lingkungan dan sekolah yang dapat membentuk anak menjadi pembelajar sejati yang akan terus belajar sepanjang hidupnya. Sehingga apapun tantangannya bisa mereka hadapi nanti.
Untuk mengetahui kualitas sekolah yang baik, secara umum sekolah harus :
  1. Memperhatikan kebutuhan psikologis mendasar anak dan memperhatikan tahapan perkembangan anak. Contohnya, kebutuhan anak untuk merasa mampu. Apakah sekolah tersebut misalnya memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan kebiasaannya, atau apakah sekolah memberi kesempatan kepada anak untuk mengikuti kompetisi meskipun ia tidak berprestasi.
  2. Dapat memenuhi kebutuhan unik atau individual anak. Sekolah yang seperti ini biasanya melakukan pembedaan cara pengajaran, misalnya memberikan tugas yang lebih sulit untuk anak yang sudah lebih advanced atau menerangkan dengan menggunakan alat bantu gambar untuk anak yang memiliki gaya belajar visual.
  3. Dapat membantu pencapaian tujuan jangka panjang orangtua untuk anak masing-masing. Artinya sekolah harus memiliki nilai-nilai yang sama dengan orangtua. Misalnya bila orangtua menginginkan anak memiliki kemandirian, apakah sekolah tersebut melakukan hal-hal yang bisa membuat anak mandiri atau selalu membantu anak dalam melakukan segala sesuatu sehingga tidak melatih kemandirian anak. Hal ini bisa dilihat pada saat kunjungan ke sekolah. Selain berbicara dengan kepala sekolah, sempatkan untuk berbicara dengan guru, murid, atau mungkin orangtua lain yang ada di sekolah.
  4. Sekolah yang memiliki tujuan pendidikan yang sama dengan orangtua. Kembali lagi lihat visi dan misi sekolah. Apakah sekolah tersebut bertujuan menciptakan anak-anak dengan nilai tes yang bagus atau membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan belajar (seperti kemampuan analisa, riset, penyelesaian masalah) sehingga dapat menjadi pembelajar mandiri.
Berikut adalah daftar yang dapat dilihat ketika orangtua berkeliling ke sekolah-sekolah:
  1. Pengaturan kelas. Kelas yang baik adalah apabila ada ruang yang cukup untuk anak bergerak, ruang untuk berkumpul dan bisa terjadi interaksi dengan baik antara guru-murid.
  2. Dinding. Apakah terisi dengan hasil karya siswa atau poster yang terjual di toko buku. Perhatikan juga apakah hasil karya yang ditempelkan tanpa kesalahan, atau hanya dari siswa terbaik, atau apakah semua hampir sama. Kalau ya, berarti sekolah tersebut tidak memperhatikan perbedaan kebutuhan pada masing-masing anak. Karena guru seharusnya menyiapkan beberapa tugas yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
  3. Wajah siswa di kelas. Perhatikan wajah siswa, apakah mereka bersemangat dan sibuk mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan. Hal ini bisa menunjukkan apakah guru memberi kegiatan yang cukup menarik untuk anak atau tidak.
  4. Cara guru berinteraksi dengan murid-muridnya. Hubungan guru-anak seharusnya hangat dan tulus, tidak bersifat mengendalikan dan memerintah.
  5. Lingkungan sekolah. Suasana sekolah yang menyenangkan dan membuat orang "betah" untuk menghabiskan waktu. Memiliki perpustakaan sekolah yang cukup lengkap. Staf dan guru yang ramah terhadap semua pengunjung dan siswa.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut Women and Mommy bisa menentukan apakah sekolah tersebut baik dan tepat untuk anak kita atau tidak.
Harapan Orangtua Vs Realita Di Sekolah
Web Ref : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/harapan.oragtua.vs.realita.di.sekolah/001/005/599/5/4
Anda harus terbuka pada guru tentang harapan Anda versus realita yang Anda temukan di sekolah. Jika Anda meragukan upaya sekolah dalam mewujudkan harapan Anda, cari solusinya bersama. Anda dapat menceritakan pola asuh anak di rumah agar sekolah membantu menyelaraskan pola asuh di rumah dengan di sekolah. Kesamaan pola asuh memaksimalkan pendidikan anak. Komunikasikan selalu perkembangan anak dengan guru. Minta laporan perkembangan anak paling tidak 1 kali sebulan.
  1. Harapan, memilih sekolah bilingual agar anak jago berbahasa Inggris. Realita, berbahasa Ingggris di sekolah harus dilanjutkan di rumah. Konsistensi penting untuk mencegah kebingungan anak dan speech delay (terlambat berbicara). Penggunaan bahasa pun jangan campur aduk “could you get Mommy teh manis from the dapur, please?”
  2. Harapan, memasukkan anak ke sekolah berbasis agama agar potensi religinya baik. Realita, sekali lagi, konsistensi. Pendidikan agama di sekolah harus terlihat rajin beribadah dan bergaya hidup sesuai ajaran agama. Jika tidak, anak bingung dan terjadi bentrokan nilai-nilai.
  3. Harapan, mencari sekolah dengan rasio guru-murid sedikit. Misal 1:4 Realita, rasio saja tidak cukup, cermati, jangan-jangan anak dibimbing asisten guru atau malah guru magang! Selain memenuhi rasio, guru harus profesional-memiliki diploma atau gelar sarjana muda (early child-hood), mendapat training dan memiliki pengalaman memadai. 
  4. Harapan, memilih sekolah kurikulum barat agar pendidikan anak semaju di sana. Realita, kurikulum barat (AS, Australia, Inggris) menerapkan activity based learning atau belajar lewat aktivitas. Anak menemukan sendiri fakta-fakta lewat proses belajar-bukan hanya “dicekoki” guru. Akhirnya terbentuklah karakter anak yang berinisiatif tinggi, kreatif, proaktif dan mandiri. Karakter ini akan cocok untuk iklim perguruan tinggi dan dunia kerja. 
  5. Harapan, memilih sekolah yang akan mencetak anak menjadi unggul. Realita, waspadai kurikulum sekolah dengan janji-janji “mencetak” anak sukses secara instan. Tahun-tahun pertama bersekolah memang penting, namun program sekolah harus diciptakan mengikuti minat, kebutuhan dan kecintaan alamiah anak untuk belajar di usia kanak-kanaknya, bukannya memaksakan anak jadi cerdas.
Demikianlah Women And Mommy pengalaman yang dapat saya bagi untuk kita semua, semoga tidak akan terjadi lagi, dan pintar-pintarlah untuka anak-anak pintar kita dalam mencari dan memilih sekolah yang baik dan bertanggungjawab dalam memberikan pendidikan formal kepada buah hati kita, SEMOGA BERMANFAAT.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar